Sejarah Masjid

PSR ( Permaa Sukodono Raya ) perumahan ini mulai dipasarkan sejak tahun ….. dan dihuni oleh warganya sejak tahun ……. secara bertahap penghuni perumahan berangsur angsur mulai ramai dan padat.  Seperti biasanya suatu perumahan atau hunian yang baru beroperasi kadang sarana prasarananya belum sepenuhnya tersedia, hal yang sama terjadi pada PSR ini , beberapa lahan yang dijanjikan belum sepenuhnya ada waktu itu semua berproses. PSR ernah menjanjikan makan dan dan mushollah namun petanya waktu itu masih belum jelas dan masih berubah-rubah, hingga pada suatu saat ada salah seorang warga PSR yaitu istri bpk Yitno warga blok A – wara kristiani – yang  meninggal dunia, sementara lokasi makan belum tersedia namun warga sudah mengetahui ada lahan PSR yang ada disebelah timur akhirnya warga pun bersekapat memakamkan jenazah di wilayah perumahan yang paling timur sebelah utara tersebut.  –alhamdulillah setelah “terpaksa” dimakamkan di sana lahan tersebut berikutnya resmi dinyatakan sebagai lahan makam warga PSR. Sebenarnya ibu DIAH – pengembang- sudah pernah menjanjikan namun belum kunjung direalisasikan, bahkan sempat terdengar warga mau demo untuk menuntut agar janji-janji pengembang segera ditunaikan.

Seusai prosessi pemakaman ibu Yitno, secara sepontan terjadilah obrolan2 lepas dan berujung pada kesepakatan agar gagasan atau tuntutan warga segeradi komunikasikan dengan pihak pengembang, akhirnya beberapa warga bersepakat untuk pergi bersama-sama  menghadap langsung ke ibu Diah selaku Owner PSR di kantor beliau jalan Nginden …… dengan pertimbangan kaarena momentumnya tepat.  . Dalami pertemuan tersebut …….. warga yang diwakili kurang lebih 13 orang meminta kepada ibu Diah agar beberapa aspirasi dan janji-janji perumahan untuk lokasi makam dan fasum dapat segera direalisasikan. Ibu Diah menyanggupi mamun nampaknya warga pun mengkhawatirkan jawaban yang hanya disampaikan secara lisan, sebagian menginginkan agar jawaban tertulis, dalam negosiasi tersebut kita berusahana menenangkan warga bahwa jawaban ibu Diah sudah didengar bersama akan kesiapannya untuk memenuhi tuntutan warga.  Akhirnya warga bersepakat membuat surat pengajuan tertulis , surat pengajuan tersebut  a/n warga diwakili oleh Ahmad Habibul Muiz. Setelah itu komunikasi ibu Diah melalui bapak Habib berjalan beberapa kali dan menjanjikan akan disegera dipenuhinya lahan makam dan dibangunkannya masjid yang kemudian diberi nama Al Ukhuwwah. Dalam tempo 3 bulanan setelah itu masjid pun dibangun dengan target bulan Ramadhan 1431 H / 2012 masjid sudah dapat dipakai untuk aktivitas ibadah, dengan mengucap syukur alhamdulillah rencana itu pun terealisasi dengan lancar.

Selama kurun beberapa waktu sebelum berdirinya masjid Al Ukhuwwah, warga belum memiliki tempat ibadah yang bisa digunakan bersama termasuk untuk ibadah taraweh, dan atas inisiatif  beberapa warga kegiatan Taraweh Ramadhan dimulai di jalan raya blok D th 2010 selama hampir satu bulan penuh, demikian pula tahun berikutnya 2011 aktivitas Taraweh Ramadhan juga dilaksanakan penuh selama sebulan bersama sama warga blok D dan B bekerjasama, ( selama kurun waktu ini apakah di blok A atau C sudah ada aktivitas taraweh saya belum tahu ) dan alhamdulillah tahun berikutnya 2012 warga perumahan sudah bisa menggunakan masjid Al Ukhuwwah sebagai tempat ibadah bersama seluruh warga muslim PSR.

PERESMIAN MASJID :

Setelah hampir 7 bulan proses pembangunan masjid dilaksanakan, masjid sudah bisa difungsikan untuk taraweh bersama-sama semua warga. Dari beberapa usulan nama maka nama Al Ukhuwwah lah yang disepakati sebagai nama masjid PSR., dengan semangat dan maksud agar keberadaan masjid menjadi unsur pemersatu dalam rangka memperkuat dan mempererat hubungan silaturrahim antar warga perumahan (jamaah) bukan malah sebaliknya masjid malah menjadi unsur pemecah na’udzubillahi min dzalika. Karena sudah banyak kasus di wilayah perumahan lain adanya masjid belum bisa menyatukan warga dan jamaahnya, malah memunculkan friksi dan perbedaan yang berkepanjangan dan berujung kerenggangan dan keretakan warga. Hal tersebut tidak kita kehendaki terjadi di perumahan PSR  ini.

Satu demi satu melalui semangat yang tinggi proses konsolidasi warga dan jamaah masjid Al Ukhuwwah semakin mendekati harapan, penyamaan persepsi dan sikap khususnya menyangkut hal-hal yang bersifat khilafiyah sedari awal dibicarakan mulai soal nama, simbol2 masjid seperti beduk, kentongan, model sholat jumat, rakaat taraweh, puji pujian, qunut subuh dll dimuswyawarahkan dengan semangat mencari titik temu yang terbaik dengan sikap toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan dan keberagaman. Beberapa kesepatakan yang pernah dicapai  :

  1. Menjadikan masjid Al Ukhuwwah bercirikan Nasional ( artinya tidak mewakili / dominan warna tertentu ) mengingat warga perumahan sangat heterogen dan masjid agar menjadi unsur pemersatu
  2. Keberadaan bedug/kentongan, tongkat sebagai simbul masjid tidak diperlukan
  3. Mimbar masjid yang samapai saat ini masih dipakai adalah bantuan salah satu warga yaitu bapak Qodhi yang berasal dari kantor Pengadilan Agama Surabaya dengan sedikit modifikasi nama AL Ukhuwwah
  4. Bacaan jahar (keras dan jelas) maupun sirri (samar-samar) serta qunut subuh, diserahkan kepada pilihan Imam saat memimpin sholat
  5. Sholat Jumat dengan 2 adzan, tetapi tanpa bilal
  6. Puji pujian ( biasanya anak-anak) tidak dilarang akan tetapi jangan sampai mengganggu kekhusuan jamaah untuk sholat sunnah, karena itu terkadang hanya beberapa saat sebelum iqamah
  7. Sholat Taraweh disepakati 11 rakaat dengan ada ceramah Ramadhan
  8. Disusun Ketakmiran dengan mengakomir keterwakilan secara teretori ( blok2 perumahan waktu itu belum ada ada RT/RW )
  9. Setiap tahun dibentuk Kepanitiaan Ramadhan sekaligus Iedul Fitri dan Iedul Qurban secara bergantian untuk regenerasi dan berbagi pengalaman
  10. Dalam iven2 tertentu dibentuk Kepanitiaan khusus seperti acara PHBI
  11. Dibentuk Remasa Masjid sebagai sarana aktualisasi para remaja
  12. Masjid bisa dipinjamkan untuk aktivitas ibadah lain seperti Pernikahan, I’tikaf, Pelatihan2 dakwah dll dengan mengajukan permohonan dan pemberitahuan kepada takmir
  13. Jika ada warga yang meninggal dunia masjid dapat berfungsi sebagai media menyampaikan informasi kematian
  14. Dan lain – lain

 

Penulisan belum tuntas ……. sejarah berikutnya sebaiknya di catat….